Bab II tinjauan pustaka



Download 74.87 Kb.
Sana25.06.2017
Hajmi74.87 Kb.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    1. Konsep Susu Formula

      1. Pengertian

Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar (mammae) baik dari binatang maupun seorang ibu. Menurut Roesli (2004), susu formula adalah cairan yang berisi zat yang mati didalamnya,tidak ada sel yang hidup seperti sel darah putih, zat pembunuh bakteri, antibodi, serta tidak mengandung enzim maupun hormon yang mengandung faktor pertumbuhan. Raspy (2007) juga berpendapat bahwa susu formula adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak yang berfungsi sebagai pengganti ASI.

      1. Jenis-jenis susu formula

Di Indonesia telah beredar berbagai macam susu formula dengan berbagai merk dagang. Kurniasih (2008) membagi susu formula menjadi dua, yaitu :

  1. Susu formula menurut bahan dasar

Susu formula ini dapat dibedakan menjadi :

  1. Susu formula berbahan dasar sapi

Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu sapi. Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga.

  1. Susu formula berbahan dasar soya atau kedelai

Susu yang berasal dari sari kedelai ini diperuntukkan bagi bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap protein soya. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya telah terhidrolisis dengan sempurna sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan alergi tersier.

  1. Susu formula hidrolisa atau elemental

Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino.

Biasanya pada kemasan tertuliskan HA atau hipoalergenic.



  1. Susu formula khusus

Susu formula khusus ini disediaka bagi bayi yang memiliki problem dengan saluran pencernaannya. Pemberian susu formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter.

  1. Susu formula rendah laktosa

Susu formula rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low lactose atau free lactose). Sebagai penggantinya, susu formula jenis ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Susu ini cocok untuk bayi yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula darahnya tidak memilii enzim untuk mengolah laktosa.

  1. Susu formula menurut usia bayi

Menurut Kurniasih (2008), susu formula ini dibagi sebagai berikut:

  1. Susu formula adaptasi

Susu formula ini khusus untuk bayi usia dibawah 6 bulan dan disarankan mempunyai kandungan sebagai berikut:

  1. Lemak, kadar lemak yang terkandung antara 2,7-41g setiap 100ml atau, dari jumlah ini 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.

  2. Protein, kadarnya berkisar antara 1,2-1,9g/100ml dan komposisi asam aminonya harus identik dengan protein dalam ASI.

  3. Karbohidrat, kandungannya antara 5,4-8,2g/100ml dan dianjurkan terdiri atas laktosa dan glukosa.

  4. Mineral, terdiri dari Na, K, Ca, P, Mg, dan Cl dengan komposisi sekitar 0,25-0,34g/100ml.

  5. Vitamin, harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.

  6. Energi, harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal

  1. Susu formula awal lengkap

Susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk BBL sampai usia 6 bulan. Walaupun demikian, susu ini sedikit berbeda dengan dari formula adptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi, tidak disesuaikan dengan kandungan dalam ASI dan juga kandungan mineralnya lebih tinggi. Keuntungan susu formula ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.

  1. Formula lanjutan

Susu formula ini khusus untuk bayi usia 6 bulan lebih karena mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun awal lengkap. Kadar mineral, karbohidrat, lemak dan energinya juga lebih tinggi karena untuk mengimbangi kebutuhan tumbuh kembang anak.

Berikut ini adalah tabel ringkasan perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula:

Tabel 2.1 Ringkasan Perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula

Porperti

ASI

Susu Sapi

Susu formula

Kontaminasi bakteri

Tidak ada

Mungkin ada

Mungkin ada bila dicampurkan

Faktor anti infeksi

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Faktor pertumbuhan

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Protein

Jumlah sesuai dan mudah dicerna

Kasein : Whey (40:60)

Whey: alfa


Terlalu banyak dan sukar dicerna

Kasein : Whey (80:20)

Whey: Betalaktoglobulin


Sebagian diperbaiki. Disesuaikan dengan ASI

Lemak

Cukup mengandung asam lemak esensial (ALE), DHA dan AA

Mengandung Lipase



Kurang ALE

Tidak ada Lipase



Kurang ALE

Tidak ada DHA dan AA

Tidak ada Lipase


Zat Besi

Jumlah kecil tapi mudah dicerna

Jumlah lebih banyak tapi tidak diserap dengan baik

Ditambahkan ekstra tidak diserap dengan baik

Vitamin

Cukup

Tidak cukup Vit A dan Vit C

Vitamin ditambahkan

Air

Cukup

Perlu tambahan

Mungkin perlu tambahan

(sumber: Suradi, R, dan H.K.P. 2007. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Jakarta: Perinasia).

Keterangan :

Susu formula yang dimaksud dalam tabel adalah susu formula selain yang berbahan dasar susu sapi, terdiri dari susu formula berbahan dasar kedelai dan susu formula hidrolisa.


      1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula

Menurut Roesli (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula yaitu:

1. ASI tidak cukup

Alasan ini merupakan alasan utama bagi ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif. Walaupun banyak ibu yang merasa ASInya kurang,tetapi hanya sedikit (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya. Selebihnya ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya.

2. Ibu bekerja dengan cuti hamil 3 bulan

Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI, karena waktu ibu bekerja, bayi dapat diberi ASI perah yang diperoleh sehari sebelumnya.

3. Takut ditinggal suami

Alasan ini karena mitos yang salah, yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. Sebenarnya yang mengubah bentuk payudara adalah waktu kehamilan bukan menyusui.

4. Bayi akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dan manja.

Pendapat bahwa bayi akan tumbuh menjadi anak karena terlalu sering didekap dan dibelai adalah tidak benar. Justru anak akan tumbuh menjadi kurang mandiri, manja, dan agresif karena kurang diperhatikan oleh orang tua dan keluarga.

5. Susu formula lebih praktis

Pendapat ini tidak benar, karena untuk membuat susu formula diperlukan api atau listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril, dan waktu untuk mendinginkan susu formula. Sementara ASI siap pakai dengan suhu yang tepat setiap saat serta tidak memerlukan api, listrik, dan perlengkapan yang harus steril.

6. Takut badan gemuk

Pendapat bahwa ibu menyusui akan sulit menurunkan berat badan adalah tidak benar. Didapatkan bukti bahwa menyusui akan menurunkan berat badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui. Timbunan lemak yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sulit untuk menghilangkan timbunan lemak tersebut.

Kurniasih (2008) menambahkan bahwa alasan ibu memberikan susu formula yaitu:



  1. Stress sehingga menghambat produksi ASI

  2. Puting susu ibu masuk kedalam sehingga bayi kesulitan untuk menghisap ASI

  3. Ibu menderita sakit tertentu semisal kanker atau jantung sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi

  4. Kurang percaya diri

  5. Ibu kecanduan narkotika dan zat adiktif lainya (NAPZA)

      1. Dampak pemberian susu formula

Berbagai dampak negatif yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antara lain:

  1. Gangguan saluran pencernaan (muntah, diare)

Judarwanto (2007) menjelaskan bahwa anak yang sering mendapatkan susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung, “cegukan”, sering buang angin, sering rewel, gelisah terutama malam hari. Sering buang air besar (>3 kali perhari), tidak BAB setiap hari, feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah, hernia umbilikalis (pusar menonjol), inguinalis (benjolan diselakangan, daerah buah zakar atau pusar) karena sering ngeden sehingga tekanan dalam perut meningkat. Gangguan ini merupakan biasanya reaksi bayi pada saat saluran pencernaan beradaptasi terhadap susu formula (Raizah, 2008)


  1. Infeksi saluran pernafasan

Bila gangguan saluran pencernaan terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsillitis/amandel) berulang dan kadang setiap bulan atau lebih (Judarwanto, 2007).

  1. Meningkatkan resiko serangan asma

Para peneliti telah mengevaluasi terhadap efek perlindungan dari pemberian ASI, bahwa pemberian ASI melindungi terhadap asma dan penyakit alergi lain. Sebaliknya, pemberian susu formula dapat meningkatkan resiko tersebut (Oddy dkk (2003) dalam Roesli, 2008).

  1. Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif

Menurut penelitian Smith dkk (2003) dalam Roesli (2008),bayi yang tidak diberi ASI ternyata mempunyai skor lebih rendah dalam semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI.

  1. Meningkatkan resiko kegemukan (obesitas)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amstrong dkk (2002) dalam Roesli (2008) membuktikan bahwa kegemukan jauh lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula. Kries (1999) dalam Roesli (2008) menambahkan bahwa kejadian obesitas mencapai 4,5%-40% lebih tinggi pada anak yang tidak pernah diberikan ASI.

  1. Meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah

Anak yang mendapat susu formula tekanan darahnya lebih tinggi daripada anak yang mendapat ASI. Para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ASI pada anak yang lahir prematur dapat menurunkan darah pada tahun berikutnya (Singhal dkk (2001) dalam Roesli, 2008).

  1. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar

Dari kasus merebaknya wabah Enterobacteri zakazakii di Amerika Serikat, dilaporkan kematian bayi berusia 20 hari yang mengalami demam, takikardia, menurunnya aliran darah, dan kejang pada usia 11 hari. Kuman ditemukan pada susu formula tercemar yang dipakai unit perawatan intensif neonatal tersebut (Weir (2002) dalam Roesli, 2008).

  1. Meningkatkan kurang gizi

Pemberian susu formula yang encer untuk menghemat pengeluaran dapat mengakibatkan kekurangan gizi karena asupan kurang pada bayi. Secara tidak langsung, kurang gizi juga akan terjadi jika anak sering sakit, terutama diare, dan radang pernafasan (Roesli, 2008).

  1. Meningkatkan resiko kematian

Menurut Chen dkk (2004) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi.

  1. Meningkatkan kejadian karies gigi susu

Sukrosa merupakan sejenis karbohidrat dalam susu yang dapat mamberikan rasa manis dan sumber energi cepat untuk tubuh (dapat meningkatkan gula darahdalam waktu singkat). Konsumsi sukrosa dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karies gigi.

Kebiasaan anak minum susu formula dengan menggunakan botol saat menjelang tidur dapat menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang dalam mulut sepanjang malam akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam (Retno, 2001).

Jika makanan yang dimakan mengandung gula, pH mulut akan turun dalam waktu 2,5 menit dan tetap rendah selama 1 jam. Bila gula yang mengandung sukrosa dikonsumsi 3 kali sehari, artinya pH mulut selama 3 jam akan berada dibawah 5,5. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan subsurface/lapisan di bawah permukaan gigi. Proses demineralisasi yang terjadi selama periode waktu ini sudah cukup untuk mengikis lapisan email (Nita,2007).


    1. Konsep Karies Gigi

      1. Pengertian

Karies berasal dari kata “ker” yang dalam bahasa Yunani artinya kematian,sedangkan dalam bahasa Latin artinya kehancuran. Karies gigi merupakan pembentukan lubang pada permukaan gigi yang disebabkan oleh kuman (Srigupta, 2004). Sedangkan menurut Koswara (2006) karies gigi adalah penyakit keropos yang dimulai pada lokasi tertentu pada bagian gigi, dan diikuti proses kerusakan atau pembusukan gigi secara cepat. Karies gigi dimulai dengan terjadinya pengikisan mineral-mineral dari permukaan atau enamel gigi oleh asam organik hasil fermentasi karbohidrat makanan terutama gula pasir dan pati-patian yang tertinggal melekat pada bagian-bagian dan sela-sela gigi oleh bakteri asam laktat.

      1. Pertumbuhan gigi

Benih gigi susu sebenarnya sudah terbentuk sejak bayi masih dalam kandungan, yaitu sejak janin berusia 4 minggu. Bahkan, gigi permanen yang akan menggantikan gigi susu juga telah terbentuk. Gigi tumbuh dari epitel tulang rahang. Mula-mula yang tumbuh adalah mahkota gigi berwarna putih dengan lapisan luar emailnya, lalu berlanjut ke bawah berupa dentin, diteruskan dengan pulpa gigi yang menjadi tempat syaraf dan pembuluh darah, yang paling akhir adalah akar gigi (Rosseno, 2008).

Erupsi atau keluarnya akar gigi pertama biasanya terjadi pada usia 6-8 bulan setelah kelahiran. Namun ada kalanya erupsi gigi terjadi saat anak berusia 9 bulan (Machfoedz, 2006). Erupsi ini tidak terjadi sekaligus, akan tetapi satu persatu atau sepasang. Ketika berusia 1 tahun, biasanya anak punya 6-8 gigi susu. Pertumbuhan gigi susu ini akan berhenti pada usia 2-3 tahun dengan jumlah gigi 20 buah. Kemudian satu persatu akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen saat anak menginjak usia 5-6 tahun (Rosseno, 2008).

Urutan pertumbuhan gigi susu yaitu:

Tabel 2.2 Urutan Pertumbuhan Gigi Susu



No

Jenis Gigi Susu

Tumbuh Umur

1
2

Gigi rahang atas:

  1. Gigi seri pertama

  2. Gigi seri kedua

  3. Gigi taring

  4. Gigi geraham pertama

  5. Gigi geraham kedua

Gigi rahang bawah:

  1. Gigi seri pertama

  2. Gigi seri kedua

  3. Gigi taring

  4. Gigi geraham pertama

  5. Gigi geraham kedua

7-8 bulan

8-9 bulan

16-18 bulan

12-14 bulan

20-30 bulan


6-7 bulan

8-9 bulan

14-16 bulan

12-14 bulan

20-30 bulan


(sumber: Machfoedz, I. 2006. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak dan Ibu hamil. Yogyakarta: Fitramaya).


      1. Manifestasi klinis

Tanda awal dari lesi karies adalah sebuah daerah yang tampak berkapur di permukaan gigi yang menandakan adanya demineralisasi. Daerah ini dapat menjadi tampak coklat dan membentuk lubang. Proses sebelum ini dapat kembali ke asal (reversible),namun ketika lubang sudah terbentuk maka struktur yang rusak tidak dapat diregenerasi. Sebuah lesi tampak coklat dan mengkilat dapat menandakan karies. Daerah coklat pucat menandakan adanya karies yang aktif. Bila email dan dentin sudah mulai rusak, maka lubang akan semakin tampak. Daerah yang terkena akan berubah warna dan menjadi lunak ketika disentuh (Kuntari, 2008).

      1. Karies botol susu

Karies susu botol yang sering disebut Nursing Bottle Caries, Nursing Bottle Mounth, Baby Bottle Caries, dan Early Childhood Caries (ECC) adalah karies dengan pola yang khas dan sering terlihat pada anak usia kurang atau sama dengan 6 tahun yang mempunyai kebiasaan minum ASI, susu botol atau cairan yang manis sampai tertidur dan dihisap terus menerus sepanjang hari, atau yang berlangsung 2-4 kali selama beberapa jam sampai tertidur dan kadang-kadang sepanjang malam (Wei (1988) dalam Chemiawan dkk, 2004). Keadaan karies susu botol ini mempunyai pola yang khas yaitu gigi pertama yang terkena adalah gigi insitif lateral atas, permukaan labial, lingual, mesial dan distal. Kemudian permukaan oklusal gigi molar satu atas dan satu bawah, serta gigi kanan bawah. Bila kebiasaan pemberian makanan anak sampai tertidur berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi keadaan lebih lanjut yaitu karies akan tampak pada permukaan oklusal molar dua atas serta bawah, dan yang terakhir adalah gigi insitif bawah (Susilowati, 2008).

      1. Faktor-faktor yang mempengaruhi karies gigi

Menurut Ruslawati (2001), penyebab karies gigi meliputi faktor internal dan eksternal, yaitu:

  1. Faktor internal

Merupakan faktor yang langsung berhubungan dengan karies gigi, yaitu:

  1. Host, meliputi gigi dan saliva

Komposisi gigi terdiri dari email dan dentin. Dentin adalah lapisan di bawah email. Struktur email gigi sangat menentukan proses terjadinya karies.

Gigi selalu dibasahi saliva secara normal. Pada proses pencernaan di dalam mulut terjadi kontak antara makanan, saliva dan gigi. Fungsi saliva adalah sebagai pelicin, pelindung, buffer, pembersih, dan anti bakteri. Jumlah dan isi saliva, derajat keasaman, kekentalan, dan kemampuan buffer berpengaruh pada karies. Saliva mampu meremineralisasi karies dini karena mengandung ion Ca, dan P. Saliva juga mempengaruhi pH dan komposisi mikroorganisme dalam plak (Mansjoer, 2001).



  1. Agent (Bakteri/Mikroorganisme)

Mansjoer (2001) mengatakan ada 3 bakteri yang sering mengakibatkan karies yaitu:

  1. Lactobacillus, bakteri ini populasinya dipengaruhi oleh kebiasaan makan. Bakteri ini hanya dianggap faktor pembantu karies.

  2. Streptococcus, bakteri kokus gram positif ini jumlahnya terbanyak dalam mulut dan merupakan penyebab utama karie gigi karena bakteri ini mampu memproduksi senyawa glukan (mutan) dalam jumlah yang besar dari sukrosa dengan pertolongan enzim, salah satu spesiesnya yaitu Streptococcus mutans.

  3. Actinomyces, semua spesies ini memfermentasikan glukosa, terutama membentuk asam laktat, asetat, dan asam format.

  1. Environment (substrat)

Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dimakan sehari-hari yang menempel di permukaan gigi. Substrat ini dapat berasal dari jus, susu formula, larutan, dan makanan manis lainnya.

  1. Time/waktu

Bakteri dan substrat membutuhkan waktu lama untuk demineralisasi dan progesi karies. Waktu merupakan kecepatan terbentuknya karies serta lama dan frekuensi substrat menempel di permukaan gigi. Adanya kemampuan saliva untuk meremineralisasi selama proses karies, menandakan bahwa proses tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Sehingga bila saliva berada dalam lingkungan gigi, maka karies tidak akan menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.

  1. Faktor eksternal

Selain faktor internal (faktor langsung) yang berhubungan dengan karies gigi, terdapat faktor-faktor eksternal (faktor tidak langsung) yang disebut faktor resiko luar, yang merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya karies. Faktor-faktor tersebut yaitu:

  1. Usia

Sejalan dengan pertambahan usia seseorang, jumlah karies akan bertambah. Hal ini karena faktor resiko terjadinya karies akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi.

  1. Jenis kelamin

Prevalensi karies gigi tetap pada wanita lebih tinggi dibanding pria. Hal ini karena erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibanding anak laki-laki, sehingga gigi anak perempuan akan lebih lama berhubungan dengan faktor resiko terjadinya karies.

  1. Suku bangsa

Beberapa penelitian menunjukkan ada perbedaan pendapat tentang hubungan suu bangsa dengan prevalensi karies gigi. Hal ini karena perbedaan keadaan social ekonomi, pendidikan, makanan, cara pencegahan karies dan jangkauan pelayanan kesehatan gigi yang berada disetiap suku tersebut.

  1. Letak geografis

Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan ini kemungkinan karena perbedaan lama dan intensitas cahaya matahari, suhu, cuaca, air, keadaan tanah dan jarak dari laut. Telah dibuktikan bahwa kandungan fluor sekitar 1 ppm air akan berpengaruh terhadap penurunan karies.

  1. Kultur sosial penduduk

Faktor yang dapat mempengaruhi adalah pendidikan dan penghasilan yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi dan lain-lain.

  1. Kesadaran, sikap, dan perilaku individu terhadap pemeliharaan kesehatan gigi.

      1. Dampak karies gigi

Jika gigi yang mengalami karies dibiarkan tidak dirawat, maka dapat menimbulkan rasa sakit/nyeri pada kavitas, demam, proses mengunyah makanan akan terganggu sehingga anak menjadi kehilangan selera makan dan akhirnya menjadi kurus. Kehilangan gigi yang terlalu dini, kemungkinan besar ke depannya anak akan membutuhkan perawatan orthodonsia (braket). Gigi susu yang berlubang dapat menyebabkan gigi tersebut goyang dan tanggal premature atau terpaksa dicabut sebelum waktunya. Jika terjadi abses atau infeksi di sekitar gigi yang mengalami karies, maka dapat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang gigi permanennya (Susanto, 2007).

Menurut Paramitha (2000), kelainan dan gangguan pertumbuhan gigi akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada fungsi estetika mulut. Penampilan wajah anak akan terganggu sehingga mengurangi daya tarik. Bila kelainan gigi ini dibiarkan terus, maka secara tidak langsung akan mengakibatkan kegunaan fungsional terganggu.



      1. Pencegahan

Pencegahan terhadap karies gigi harus dilakukan secepatnya. Menurut Kuntari (2008) cara yang dapat dilakukan untuk mencegah karies gigi yaitu:

  1. Setelah diberi makan, bersihkan gusi anak dengan kain/lap bersih.

  2. Jangan biarkan anak tertidur sambil minum melalui botol yang berisi susu formula, jus buah atau larutan manis lainnya, berikan botol hanya ketika makan saja.

  3. Jika anak membutuhkan botol untuk pemberian makanan yang regular pada malam hari atau hingga tidur,beri anak botol bersih yang direkomendasikan oleh dokter gigi.

  4. Hindari mengisi botol minum anak dengan larutan manis seperti air gula dan soft drink.

  5. Ajari anak minum susu dangan gelas/cangkir.

  6. Jika air yang akan diberikan kepada anak tidak mengandung fluor, tanyakan pada dokter gigi apa yang sebaiknya diberikan pada anak.

  7. Ketika anak menginjak usia 2 tahun,ajari anak menyikat gigi 1-2 kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur.

  8. Mulailah berkunjung ke dokter gigi sejak tahun pertama kelahiran.




    1. Konsep Anak Prasekolah

      1. Pengertian

Anak prasekolah adalah anak-anak yang berusia berkisar 4-6 tahun. (Soetjiningsih, 1995).

Dimana pada usia tersebut anak mengalami proses tumbuh kembang, baik dari fisik, mental dan sosial. Proses tumbuh kembang sangat terkait dengan faktor kesehatan, dengan kata lain hanya pada anak yang sehat dapat diharapkan terjadi proses tumbuh kembang yang optimal (Kurnia, 2008).



      1. Arti penting masa kanak-kanak (usia prasekolah)

Perkembangan manusia pada masa ini berlangsung secara berkesinambungan. Pematangan fisiknya mengikuti proses perkembangan yang berurutan. Masa-masa usia emas ini adalah masa penting dalam rentang perkembangan hidup manusia karena sebagian besar corak kepribadian seseorang ditentukan pada masa kanak-kanak. Bagaimana orang dewasa berpikir, melihat masalah, mengalami konflik, dan menyelesaikan konflik memiliki hubungan erat dengan perkembangan kepribadiannya di masa kanak-kanak (Kurnia, 2008).

      1. Tumbung kembang anak prasekolah

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya

berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan

perkembangan. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar,jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan ukuran berat dan ukuran panjang, sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh

bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya.Termasuk juga

perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil berinteraksi

dengan lingkungannya. Apabila anak usia prasekolah tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, maka ketika anak beranjak dewasa, perkembangan otak dan fisiknya akan mengalami hambatan. Berbagai gangguan dan hambatan dalam tumbuh kembang anak, yaitu kurang tidur, lingkungan yang tidak sehat, kurang perhatian dan kasih sayang orang tua (Kurnia, 2008).

Gizi adalah faktor yang ikut menentukan pertumbuhan anak. Semakin beragam menu harian yang diterima anak usia prasekolah, semakin terpenuhi pada kecukupan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh anak. Peran susu pertumbuhan dibutuhkan untuk membantu memenuhi kecukupan protein, mineral, dan elemen khususnya kalsium. Memilih susu pertumbuhan yang memenuhi syarat akan menunjang tumbuh kembang optimal anak (Juwardanto, 2007).


    1. Hubungan Lama Pemberian Susu Formula dengan Karies Gigi

Anak usia prasekolah umumnya masih banyak yang mengkonsumsi susu formula, khususnya menggunakan botol. Pemberian susu ini cenderung dibiarkan sampai anak tertidur dalam keadaan menghisap botol yang berisi susu atau kadang air gula sehingga susu atau cairan manis tersebut menggenang di sekitar maksila bagian depan. Kebiasaan minum ini bisa mengakibatkan karies gigi pada anak yang sering disebut dengan Nursing Bottle Caries, Nursing Bottle Mounth, Baby Bottle Caries, dan Early Childhood Caries (ECC) (Susilowati, 2008).

Lubang gigi ini disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang di mulut sepanjang malam, akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam (Retno, 2001). Gula pasir/sukrosa merupakan makanan penyebab utama karies dentin. Sedangkan gula laktosa dalam ASI tidak semanis gula pada sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Tingkat kemanisan laktosa hanya seperenam kemanisan glukosa, itulah sebabnya bayi yang diberi ASI tidak mengalami karies gigi (Marimbi, 2010).

Bakteri yang sering muncul dalam plak adalah Streptococcus, dengan salah satu spesiesnya yaitu Streptococcus mutans. Bakteri Streptococcus berada dalam mulut secara anaerobic melalui enzim yang diproduksi mampu mencerna atau menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Dari hasil metabolisme jenis gula tersebut, terbentuklah polimer rantai panjang dari glukosa dan fruktosa. Dari situlah kemudian berkembang menjadi noda pada permukan gigi. Noda-noda tersebut bersifat gel yang lengket sekali (Koswara, 2006). Streptococcus mutans berkembang dengan subur jika ada kombinasi gula, sedikit air ludah dan tingkat keasaman (pH rendah) dalam air ludah. Sebagian dari populasi ini sekitar 20% diperkirakan semakin bertambah banyak dalam suasana sangat asam yang dihasilkan bakteri (Nita, 2007).

Proses pengeroposan gigi sendiri disebabkan oleh pengaruh asam laktat, yaitu produksi hasil sampingan dari metabolisir fruktosa. Bayi dan anak kecil yang dibiasakan minum susu formula/cairan manis dalam botol sambil tidur lebih memungkinkan terjadi laju penyedotan isi botol lebih cepat dari laju penelanan, sehingga sering susu berada di dalam mulut terlalu lama (Koswara, 2006). Asam yang diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitive pada pH rendah. Ketika itu, proses demineralisasi menjadi lebih cepat karena menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi (Kuntari, 2008). Permukaan gigi tampak utuh, tetapi sebenarnya lapisan di bawahnya telah larut. Demineralisasi awal tampak seperti bercak putih di gigi dan lama-lama menjadi kecoklatan (Nita, 2007).

Aliran saliva di dalam rongga mulut sebenarnya dapat membantu membersihkan asam yang menempel pada permukaan gigi. Namun ketika anak tertidur, aliran saliva secara signifikan akan berkurang dan kondisi ini akan diikuti oleh tergenangnya asam yang dihasilkan oleh fermentasi gula yang terdapat pada susu formula/larutan manis yang mengandung gula di dalam rongga mulut sehingga akan mempercepat terbentuknya karies gigi. Dan jika gigi dibiarkan tidak dirawat, maka lubang akan berkembang (Kuntari, 2008).

Hasil penelitian Drg. Yuke Yulianingsih Heriandi, MS, Universitas Trisakti tahun 2005 menunjukkan terdapat pertumbuhan karies gigi yang lebih tinggi yaitu rata-rata 39,622% pada anak balita yang mengkonsumsi makanan kariogenik, karena makanan kariogenik mengandung sukrosa 4,4 kali lebih banyak daripada makanan non-kariogenik. Dari hasil penelitian yang terdahulu yang berjudul hubungan lama pemberian susu botol dengan kejadian karies gigi pada anak TK Arafat, Semanggi, Surakarta yang dilakukan oleh Ida Ayu Komang Ari Purnamaastuti tahun 2006 menunjukkan bahwa pemberian susu formula lebih

dini akan mengakibatkan angka kejadian keparahan karies gigi yang lebih tinggi juga.

Salah satu keburukan mengkonsumsi susu formula terutama bila anak sudah balita dan pemberian susu telah dilakukan lebih dari 1 tahun adalah kemungkinan terjadinya karies susu botol. Memperpanjang waktu susu formula yang melebihi masa peralihan pemberian makanan cair ke makanan padat, akan menyebabkan karies lebih dini. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai saat bayi berusia 6 bulan yang berupa makanan padat/semi padat. Kepadatan makanan yang diberikan pada bayi meningkat secara bertahap sampai mendekati usia 1 tahun (Kuntari, 2008).





Do'stlaringiz bilan baham:


Ma'lumotlar bazasi mualliflik huquqi bilan himoyalangan ©hozir.org 2017
ma'muriyatiga murojaat qiling

    Bosh sahifa