Bab II pembahasan persoalan kefilsafatan tidak berupa fakta



Download 35.31 Kb.
Sana23.06.2017
Hajmi35.31 Kb.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Persoalan kefilsafatan tidak berupa fakta

  1. Ciri-ciri persoalan kefilsafatan

  1. Bersifat sangat umum

  2. Tidak menyangkut fakta

  3. Bersifat kritis

  4. Bersifat sinoptik

  5. Bersifat implikatif

  1. Bersifat implikatif Kesenjangan antara Kebenaran dan Fakta

Di zaman dahaulu, nilai-nilai kebenaran sangat dijunjung tinggi oleh para orang tua, pendidik, ulama dan anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupan kehidupan bermasyarakat. Prinsip satu kata dengan perbuatan atau perilaku masih terwujud dalam fakta yang dapat diamati. Sebagai contoh, keluarga kaum ulama pada zaman dahulu masih konsisten dalam menjalankan ajaran agama islam tentang etika bergaul antara pria dan wanita, etika tentang tata cara berpakaian menurut Islam bagi kaum pria dan wanita, serta etika – etika lainnya yang semuanya telah diatur dalam Alquran dan Alhadist. Ajaran-ajaran dalam islam tersebut merupakan suatu kebaikan dan kebenaran yang sifatnya mutlak. Karena itu, tata bergaul antara pria dan wanita serta tata cara berpakaian antara pria dan wanita islam di zaman praglobalisasi penuh dengan nilai-nilai dan etika tentang sopan santun. Fenomena ini terwujud dalam fakta di masyarakat yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, di era globalisasi, nilai-nilai kebenaran khususnya kebenaran etika bergaul dan berpakaian antara pria dan wanita menurut islam sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian anggota masyarakat remaja yang terwujud dalam fakta. Sebagai contoh ajaran islam tentang “larangan mendekati zina” sebagai suatu ajaran yang mengandung nilai kebenaran mutlak, kini telah ditinggalkan oleh sebagian remaja yang berpola pikir kebarat-baratan. Islam juga mengajarkan nilai sopan santun yang mengandung nilai kebenaran tentang keharusan kaum wanita untuk menutup aurat.

Namun dalam faktanya, sebagian remaja kita telah menganggap ajaran itu tidak benar atau kuno, sehingga mereka berpakaian sangat seksi. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai kebenaran agama mengalami krisis dan kesenjangan dengan kenyataan atau fakta yang diamati dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat.



  1. Keterkaitan antara Fakta dan kebenaran

Kebenaran adalah sesuatu yang ada secara objektif, logis, dan merupakan sesuatu yang empiris. Sedangkan fakta merupakan kenyataan yang terjadi yang dapat diterima secara logis dan dapat diamati secara nyata dengan pancaindra manusia. Kebenaran dan fakta merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, antara fakta dan kebenaran, dan antara kebenaran dengan fakta merupakan dua hal yang berkaitan sangat erat.

Berfilsafat kadang-kadang dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama di dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apaila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan ataun kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi manusia mulai berfilsafat.
Persoalan kefilsafatan tidak sama dengan persoalan ilmu lain. Persoalan kefilsafatan yang dihadapi manusia melampaui batas pengetahuan sehari-hari bahkan melampaui pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut persoalan fakta atau kenyataan yang dapat dilihat oleh indra. Pengetahuan fakta adalah pengetahuan yang dapat diukur, dihitung atau ditimbang yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau bersifat kuantitatif Persoalan yang dikaji dalam filsafat tidak berupa fakta. Persoalan filsafat bersifat spekulatif dan mendorong untuk memunculkan pertanyaan baru dari jawaban persoalan yang telah disediakan akan tetapi masih saling berkaitan satu sama lain. Misalnya seorang ilmuwan memikirkan salah satu dari beberapa kejadian alam yang disebut “hujan”. Ilmuwan dapat memikirkan sebab-sebab terjadinya hujan dan memberikan deskripsi tentang kejadian itu. Dalam suatu kawasan ilmuwan dapat meramal daerah-daerah mana yang terkena hujan yang tinggi rendahnya hujan dapat dinyatakan dalam bentuk ukuran yang besifat kuantitatif. Namun ilmuwan tidak mempersoalkan maksud dan tujuan hujan, karena hal itu di luar batas kewenangan ilmiah. Ia tidak menanyakan apakah ada “kekuatan” atau “tenaga” yang mampu menimbulkan hujan. Ilmuwan tidak memikirkan apakah kekuatan atau tenaga yang menimbulkan hujan itu berwujud materi atau bukan-materi. Pemikiran tentang “maksud”, “tujuan” dan “kekuatan” itu bersifat spekulatif, artinya melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah.
Persoalan filsafat bukan berupa fakta didasari oleh asumsi yang menjadi latar belakang dasar dari lahirnya filsafat. Dalam buku “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri, didalamnya ia mendeskripsikan asumsi secara rinci dengan menghadirkan sebuah cerita dengan lakon dua tokoh penembak yang memiliki latar belakang yang berbeda, pertama seorang penembak ulung dan yang kedua seorang petani yang tidak mempunyai pengalaman dalam dunia tembak, lalu keduanya dipertemukan dalam sebuah arena adu tembak, dan dari sinilah asumsi mulai bermunculan dari berbagai pihak untuk mengambil peruntungan siapa yang akan mereka jagokan?  Mereka pun mulai berspekulasi agar tidak salah dalam memilih orang yang akan mereka jagokan. Kemungkinan yang pertama tentunya kemenangan sangat jelas berpihak kepada si penembak ulung jika dilihat dari pengalaman yang telah dia jalani dalam dunia tembak, dan kemungkinan tersebut sangatlah besar peluangnya untuk lolos menjadi pemenang. Lalu disana pun masih ada kemungkinan kedua yaitu keberuntungan si petani untuk lolos menjadi pemenang, walaupun keahlian menembak tak dia kuasai, tetapi paling tidak masih ada sedikit peluang untuknya agar menjadi pemenang dalam adu tembak ini. Setelah menyimak cerita tersebut kita pun mulai ikut berasumsi (menduga-duga) manakah yang akan lolos menjadi pemenang? Si jago tembak kah sesuai dengan hukum alam yang berlaku? Atau si petani kah karena peluang yang dimilikinya membawa dia kepada keberuntungan.

Para filsuf merenungkan apa hakikat kenyataan sampai melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah yang bersifat empiris. Pertanyaan-pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak, apakah ada nilai-nilai yang terdalam, apakah ada tujuan terakhir dari semua yang ada. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak ditujukan pada seorang ilmuwan, akan tetapi ditujukan pada seorang filsuf. Pertanyaan kefilsafatan bukanlah pertanyaan yang menyangkut fakta yang mungkin ilmuwan dapat menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan menanyakan nilai-nilai dan makna-makna dan bahkan mencakup nilai dan maka itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan kefilsafatan menuntut perenungan secara imajinatif, dan kesiapan untuk melampaui fakta-fakta dengan maksud dapat merumuskan beberapa hipotesis yang lebih dapat dipahami daripada semata-mata meninjau secara ilmiah.

  1. Persoalan kefilsafatan berkaitan dengan nilai

Mengapa dalam filsafat ada pandangan yang mengatakan nilai sangatlah penting, itu karena filsafat sebagai ‘’phylosophy of life” mempelajari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan yang berfungsi sebagai pengontrol sifat keilmuan manusia. Teori nilai berfungsi mirip dengan agama yang menjagi pedoman kehidupan manusia. Dalam teori nilai terkandung tujuan bagaimana manusia mengalami kehidupan dan memberi makna terhadap kehidup ini.Nilai merupakan sesuatu yang keberadannya nyata, tetapi ia bersembunyi di balik kenyataan yang tak tampak, tidak tergantung padakenyataan-kenyataan lain, dan tidak pernah mengalami perubahan(meskipun pembawa nilai bisa berubah). Persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan keputusan tentang pernilaian moral, estetis, agama dan sosial. Filsafat dipahami sebagai apa yang ada dalam pikiran seseorang yang membuatnya menganggap apa yang penting sebagai nilai hidupnya.1. Atau juga filsafat merupakan kegiatan untuk mencari kebijaksanaan atau kearifan (wisdom), jadi bukan mencari informasi tentang fakta-fakta saja. Yang dimaksud dengan wisdom adalah suatu sikap menilai dan menimbang-nimbang sejumlah tindakan dengan memberikan penafsiran yang masuk akal.

  1. Pengertian nilai

Nilai (value) adalah keberhargaan atau keunggulan pada sesuatu hal yang menjadi objek dari keinginan manusia yang didambakan, diperjuangkan dan dipertahankan. Dengan adanya nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia, maka manusia merasa senang, merasa puas atau merasa bahagia. Kebanyakan pertanyaan kefilsafatan berkaitan dengan hakikat nilai-nilai. Hasil-hasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia dalam alam, sesuatu yang dicita-citakan manusia, semuanya itu secara tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya pertanyaan “apakah Tuhan itu? Jawaban yang diberikan berupa norma-norma yang digunakan dalam menilai tindakan dan memberi bimbingan dalam mengadakan pilihan atas perbuatan yang akan dilakukan.

  1. Ciri-ciri nilai

Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah sebagai berikut:

  1. Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindrai. Objek yang bernilai itu yang dapat diamati, misal seseorang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah niali, tetepi kejujuran itu tidak bisa diindrai.

  2. Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma, sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap, mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.

  3. nilai berfungsi sebagai daya dorong atau motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan berdorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

  1. Macam-macam nilai

Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam,yaitu :

  1. Nilai logika adalah nilai benar salah. Logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata sifat ‘Logike’ yang berhubungan dengan kata benda logos yang berarti perkataan atau kata sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.2 Logika adalah kerangka bagi Ilmu Pengetahuan tanapanya mustahil ilmu pengetahuan akan tegak berdiri. Logika adalah Ilmu tentang Argumen. Tujuan dari Logika adalah membangun metode-metode bagaimana mengkontruksikan argumen kita sendiri dan juga bagaimana menganalisa argumen orang lain. Yang dimaksud dengan argumen adalah sekumpulan pernyataan-pernyataan yang disebut premis yang bertujuan untuk mendukung, menjelaskan, memberikan alasan terhadap pernyataan akhir yang disebut dengan kesimpulan.Pernyataan adalah kalimat yang mempunyai nilai kebenaran yaitu benar atau salah.

Contoh:Bensin mudah terbakar.

Cristiano Ronaldo adalah pemain bulu tangkis.

5 adalah bilangan genap

Bandung merupakan ibukota jawa jawa barat.

Pernyataan 1 dan 5 bernilai benar sedangkan yang no2 dan no3 bernilai salah. Tidak semua kalimat merupakan pernyataan, dengan kata lain tidak semua kalimat mempunyai nilai kebeneran. Kalimat tanya, kalimat perintah, kaliamat seruan bukanlah pernyataan.

Bapakmu, kemana? (kalimat Tanya)

Ambilkan saya minum! (kalimat perintah)

Wah… Indah sekali. (kalimat seruan) Ketiga kalimat diatas bukanlah pernyataan.

Semua manusia tidak abadi

Socrates manusia

Socrates Tidak abadi.

Contoh diatas terdiri dari 2 premis yaitu Semua manuasia tidak abadi dan Socrates manusia. Sedengkan ksimpulannya adalah: Socrates Tidak abadi . Butuh 2 pernyataan untuk menjelaskan, untuk mendukung pernyataan: Socrates Tidak abadi. Dalam logika, argumen disusun dengan format yang disebut bentuk standart (Standart form). Tentunya sekarang kalian sudah tahu yang mana premis, yang mana kesimpulan dari contoh argumen diatasLogika mempunyai obyek material yaitu, berfikir. Sedangkan yang dimasukkan berfikir ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Apabila seseorang berfikir, maka berarti ia mengolah mengajarkan pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan berfikir atau bernalar, merupakan suatu bentuk kegiatan akal/ratio manusia, dengan nama pengetahuan yang kita terima melalui panca indra diolah dan ditunjukkan untuk mencapai suatu kebenaran.Bentuk-bentuk pemikiran yang paling sederhana ialah pengertian proposisi dan penalaran. Pengertian disebut pula konsep adalah tanggapan atau gambaran yang dibentuk oleh akal budi tentang kenyataan yang dimengerti, atau merupakan hasil pengetahuan manusia mengenai aspek atau beberapa aspek realitas.Dalam penalaran ilmah, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara penarikan kesiriakan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif penarikan kesimpulan dari yang bersifat khusus ke kasus yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif penarikan dari kasusyang bersifat umum ke khusus.



  1. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.filsafatadalah cabang ilmu yang membahas masalah keindahan. Secara etimologi, estetika diambil dari bahasa Yunani, aisthetike yang berarti segala sesuatu yang diserap oleh indera. Filsafat estetika membahas tentang refleks kritis yang dirasakan oleh indera dan memberi penilaian terhadap sesuatu, indah atau tidak indah, beauty or ugly. Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan. Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada keindahan,seni, rasa atau selera (taste), kreasi, dan apresiasi tentang keindahan. Secara lebih ilmiah, didefisinikan sebagai studi tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi sensorik yang kadang dinamakankan nilai sentimentalis atau cita rasa atau selra.3

Hubungan seni dengan filsafat sangatlah penting. Seni dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan manusia yang menjelajahi dan menciptakan realitas baru serta menyajikan secara lisan. Manusia membutuhkan seni, sebagaimana manusia membutuhkan filsafat dan ilmu karena melalui seni manusia dapat mengekspresikan dan menanamkan apresiasi dalam pengalamannya.Ada yang menggap bahwa estetika adalah bagiandari tri tunggal: (1) Epistemologi (teori kebenaran), (2) Etika (kebaikan dan keburukan), (3) Estetika (keindahan). Estetika adalah suatu filsafat yang ingin menyelidiki hal-hal berikut:

  1. Penyelidikan mengenai yang indah

  2. Penyelidikan pinsip-prinsip yang mendasari seni

  3. Pengalaman yang terkait dengan seni

Apabila ada orang yang tersentuh rasa halusnya karena kehadiran keindahan disekelilingnya, sudah barang tentu akan membuat orang itu bereaksi. Reaksi itu dapat berupa penghargaan yang baik dalam makna mengapresiasi realitas yang dilihatnya, atau dalam bentuk berupa bereaksi dalam hal membawa dirinya untuk bertindak dan bereaksi dalam menghadapi apa yang dilihatnya. Jika tingkat apresiasi dan kreasi orang menjadi tinggi, artinya ia peka terhadap lingkungannya, semakin besar tenaga yang dimilikinya untuk membuat hal-hal positif berdasarkan kepekaan dan potensi estetis yang dimiliki.

  1. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.

Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat memberikan contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian. Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa luikisan itu indah. Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai,tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan
kita sehari-hari.Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalahsebagai berikut :

  1. Nilai material

Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia.

  1. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakankegiatanatauaktivitas.

  2. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi:

  1. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.

  2. Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan(emotion) manusia.

  3. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa,Will) manusia

  4. Nilai religius yang merupakan nilai kehormatan tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.

Dalam etika ada pula paham atau aliaran humanisme. Menurut aliran itu, yang baik ialah yang sesuai dengan kodrat manusia, yaitu kemanusiaannya. Penentu dari baik buruk tindakan yang konkret adalah kata hati orang yang bertindak.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berfilsafat kadang-kadang dimulai apabila manusia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama di dalam menghadapi kejadian-kejadian alam. Apaila seseorang merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan ataun kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan dirinya tadi manusia mulai berfilsafat.
Persoalan kefilsafatan tidak sama dengan persoalan ilmu lain. Persoalan kefilsafatan yang dihadapi manusia melampaui batas pengetahuan sehari-hari bahkan melampaui pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut persoalan fakta atau kenyataan yang dapat dilihat oleh indra. Pengetahuan fakta adalah pengetahuan yang dapat diukur, dihitung atau ditimbang yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau bersifat kuantitatif Persoalan yang dikaji dalam filsafat tidak berupa fakta. Persoalan filsafat bersifat spekulatif dan mendorong untuk memunculkan pertanyaan baru dari jawaban persoalan yang telah disediakan akan tetapi masih saling berkaitan satu sama lain.

Nilai merupakan sesuatu yang keberadannya nyata, tetapi ia bersembunyi di balik kenyataan yang tak tampak, tidak tergantung padakenyataan-kenyataan lain, dan tidak pernah mengalami perubahan(meskipun pembawa nilai bisa berubah). Persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan keputusan tentang pernilaian moral, estetis, agama dan sosial. Filsafat dipahami sebagai apa yang ada dalam pikiran seseorang yang membuatnya menganggap apa yang penting sebagai nilai hidupnya



SARAN

1 Nurani Soyomukti, “Pengantar Filsafat Umum”, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011, hlm.102

2Burhanuddin Salam; Logika formal;hlm 1

3Nurani, Op. Cit.,237-238



Do'stlaringiz bilan baham:


Ma'lumotlar bazasi mualliflik huquqi bilan himoyalangan ©hozir.org 2017
ma'muriyatiga murojaat qiling

    Bosh sahifa