Bab I pendahuluan latar Belakang



Download 171.17 Kb.
bet1/2
Sana30.01.2017
Hajmi171.17 Kb.
  1   2


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam perkembangan pendidikan dewasa ini baik di negara maju mau pun di Negara yang sedang berkembang, minat membaca sangat memegang peranan penting. Keberhasilan dalam belajar sebagian besar ditunjang oleh minat baca. Seorang pelajar yang tidak berminat untuk membaca, mustahil belajarnya akan berhasil dengan baik.

Gie (1984 : 57) menyatakan bahwa “sebab tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa pembacaan, dan gudang bacaan adalah perpustakaan”. Tidaklah cukup seorang belajar hanya mengerahkan tenaganya untuk mendengarkan lalu menghafalkan saja, melainkan juga harus ditunjang banyak oleh buku-buku perpustakaan. Dengan menjadi pengunjung perpustakaan yang setia dan dapat mempergunakannya dengan baik, kemungkinan besar prestasi belajar siswa akan meningkat. Sebagai upaya meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal, oleh karena itu diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan. Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya, yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai perpustakaan. Pentingnya perpustakaan diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya, karena bahan-bahan himpunan ilmu pengetahuan diperoleh umat manusia dari masa ke masa. Tingginya budaya gemar membaca, mengakibatkan meningkatnya minat membaca. Minat membaca di tunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca. Sekarang ini banyak keluhan bahwa daya serap / pemahaman para siswa terhadap penguasaan bahan ajar adalah rendah. Penyebab rendahnya daya serap para siswa terhadap bahan ajar tersebut bukan karena faktor potensial, tetapi salah satu penyebabnya yang penting adalah minat membaca buku yaitu siswa yang mempunyai minat membaca bukunya lemah. Siswa yang lebih banyak menggunakan waktunya untuk membaca akan memperoleh prestasi belajar yang lebih baik dibanding dengan yang tidak.

Dengan adanya minat yang tinggi pada siswa akan menjadikan siswa lebih bersemangat dan bergairah dalam belajar. Seseorang yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu biasanya tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam menguasai ilmu yang dipelajari. Sebaliknya kalau seseorang belajar atau membaca dengan penuh minat maka akan meluangkan waktunya yang cukup banyak untuk mendalami mata pelajaran tersebut sehingga diharapkan prestasi yang dicapai akan lebih baik. Dalam menghasilkan output yang berkualitas, maka dalam bidang pendidikan diperlukan media pembelajaran yang memadai, untuk mengetahui keberhasilan proses belajar siswa dapat diketahui dari prestasi yang dicapai siswa. Prestasi belajar merupakan pencerminan hasil belajar yang dicapai siswa setelah melakukan usaha. Tinggi rendahnya prestasi belajar akan memberikan sumbangan dalam mencapai kesuksesan masa depan siswa. Untuk mencapai prestasi belajar yang baik, siswa dipengaruhi banyak faktor baik dari dalam maupun dari luar diri siswa tersebut. Dari dalam diri siswa itu antara lain faktor kecerdasan, bakat, minat, motivasi, kesehatan jasmani dan juga usaha untuk meningkatkan prestasi, sedangkan dari luar siswa meliputi lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, peralatan, dan media belajar.

Salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah pemanfaatan sumber belajar (termasuk media) yang sesuai dengan pengalaman hidup peserta didik. Hal ini tidak hanya meningkatkan atau membangkitkan minat dan keaktifan siswa dalam proses belajar akan tetapi juga meningkatkan efektivitas pembelajaran karena obyek yang mereka pelajari sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dan bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup keseharian mereka. Oleh karena itu, setiap guru/fasilitator diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka di dalam memilih, mengelompokkan, dan memanfaatkan berbagai obyek yang terdapat di lingkungan kelas, sekolah atau diluar sekolah sebagai sumber belajar anak sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang di sampaikan dapat dibantu dengan kehadiran media sebagai perantara. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media. Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena memang gurulah yang menghendaki untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan -pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Suatu proses pembelajaran tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipaha mi oleh setiap siswa/anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau komplek.

Menurut Djamerah & Zain (2002:136) menjelaskan didalam kegiatan belajar mengajar ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan pelajaran dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru sampaikan/jelaskan melalui kata -kata/kalimat. Oleh sebab itu media disini sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar dan membuat antusias dengan materi yang diberikan. Dalam penjelasan diatas siswa di SMP terdapat juga yang minat membaca buku perpustakaan rendah, serta penggunaan media pembelajaran yang kurang memadai/sesuai saat proses belajar mengajar berlangsung, sehingga kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa.



Melihat latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Matematika pada Siswa Kelas VIII SMP PERGIS YAPKI Maros Tahun Pelajaran 2010-2011”


  1. Rumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti, yang didasarkan pada latar belakang untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran, maka perlu dirumuskan terlebih dahulu masalah yang terkandung dalam penelitian. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yakni, Apakah ada pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan terhadap Prestasi Belajar bidang studi Matematika pada Siswa Kelas VIII di SMP Pergis YAPKI Maros?.


  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  1. Tujuan penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan terhadap Prestasi Belajar bidang studi Matematika pada Siswa Kelas VIII di SMP PERGIS YAPKI Maros.


  1. Manfaat penelitian

Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat khususnya bagi penulis dan pendidikan pada umumnya. Harapan –harapan itu antara lain :

  1. Segi teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam usaha meningkatkan keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar, dan dapat memberikan gambaran kepada sekolah bahwa minat membaca buku perpustakaan itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

  1. Segi praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengetahuan dan menerapkan ilmu yang telah diperoleh dibangku kuliah dalam kehidupan praktek belajarmengajar yang sesungguhnya dan sebagai bekal untuk terjun didunia pendidikanserta untuk mencapai pemecahan masalah yang ada pada perumusan masalah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, HIPOTESIS DAN KERANGKA PIKIR

  1. Tinjauan pustaka

  1. Pengertian perpustakaan

Dengan ditemukannya bentuk-bentuk tulisan pada zaman dahulu, maka telah mulai dikenal juga perpustakaan. Perpustakaan pada mulanya didirikan di biara-biara dan candi-candi karena sebagian besar tulisan-tulisan itu berisi informasi tentang agama dan persembahyangan. Di Eropah, ide untuk mendirikan perpustakaan telah dirintis oleh bangsa Sumeria. Karya orang Sumeria tidak hanya terdiri hal-hal keagamaan saja, tetapi juga menghasilkan karya sosial, politik, filsafat dan kesusastraan. Bahan yang mereka gunakan untuk menulis adalah lempengan tanah liat (clay tablet). Hasil karya bangsa Sumeria ini dikumpulkan dan dilestarikan pada satu tempat yang kemudian disebut perpustakaan. Pada tahun 668 S.M.

Perpustakaan Borsippa yang didirikan oleh Raja Ashur Banipal dari Asseria mempunyai koleksi 10.000 tablet yang terbuat dari tanah liat (clay tablet).

Pada zaman Yunani orang sudah mulai mengenal alphabet. Demikianlah perkembangan perpustakaan sejalan dengan perkembangan tulisan, dan kebutuhan akan informasi. Dari masa ke masa semakin dirasakan manfaat kehadiran perpustakaan di tengah-tengah masyarakat. Dalam penyelenggaraan perpustakaanpun mengalami kemajuan sesuai dengan kemajuan teknologi masa ini.

Pada kesempatan ini kita akan membicarakan tentang perpustakaan di tanah air. Perkembangan perpustakaan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga masa, yaitu :



    1. masa sebelum penjajahan Belanda

    2. masa penjajahan Belanda

    3. masa kemerdekaan, (Wikipedia, 2011)




  1. Masa sebelum penjajahan Belanda

Sebelum masa penjajahan Belanda dan bangsa Barat lainnya, di Indonesia telah dikenal kerajaan-kerajaan besar seperti kerajaan Majapahit di Jawa Tengah, kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Kekuasaan dan kejayaan negara-negara tersebut terkenal sampai ke beberapa negara.

Raja-raja yang memerintah pada masa jayanya kerajaan tersebut mempunyai perhatian yang cukup besar terhadap kesusastraan dan filsafat serta kebudayaan. Pada masa itu banyak pujangga-pujangga terkenal dan telah menulis buku. Seperti pada masa jayanya kerajaan Majapahit pujangga yang terkenal ialah Mpu Prapanca yang telah menulis sebuah buku yang terkenal yaitu Negara Kertagama, dan Mpu Tantular yang menulis buku cerita yang sangat terkenal yaitu Arjuna Wijaya dan Sutasoma.

Buku-buku dan naskah-naskah karangan pujangga kerajaan tersebut disimpan di dalam perpustakaan-perpustakaan kerajaan. Walaupun pada masa itu perpustakaan-perpustakaan hanya didirikan di dalam lingkungan kerajaan dan koleksinya juga hanya boleh dibaa oleh kalangan tertentu saja, namun perpustakaan telah dikenal dan dipelihara dengan baik. Peninggalan-peninggalan lama ini sekarang dapat dilihat di Museum Pusat.


  1. Masa penjajahan Belanda

Semasa penjajahan Belanda, perpustakaan-perpustakaan didirikan di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga lain. Tetapi koleksi-koleksi perpustakaan yang didirikan penjajah Belanda ini terbatas dengan koleksi yang akan menguntungkan bangsa Belanda. Bangsa Belanda mengawasi dengan ketat buku-buku yang akan dijadikan koleksi perpustakaan. Hal ini disebabkan bangsa Belanda menyadari akan pengaruh yang sangat besar dari membaca buku.

Buku dapat mempengaruhi pikiran dan jiwa pembacanya. Buku-buku yang baik dan bermutu akan memberikan manfaat yang positif bagi yang membacanya. Misalnya buku-buku ilmiah akan dapat meningkatkan pengetahuan, meluaskan cara berpikirnya dan dapat juga meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya buku-buku yang tidak baik, dapat merusak pembacanya, misalnya buku-buku porno dapat merusak generasi muda menjadi generasi yang bermental bobrok.

Menyadari hal ini pemerintah Belanda menghindari koleksi perpustakaannya dengan buku-buku yang dapat membangkitkan perjuangan dan nasionalisme dikalangan masyarakat Indonesia, dan ini sangat berbahaya bagi pemerintah Belanda. Koleksi perpustakaan pada masa ini kebanyakan cerita-cerita dongeng yang membuat rakyat Indonesia tidak akan teringat untuk bangkit berjuang menuntut kemerdekaannya.


  1. Perpustakaan masa kemerdekaan

Pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, pembinaan dan pengembangan perpustakaan belum begitu mendapat perhatian karena pemerintah pada masa itu masih memusatkan perhatiannya kepada penataan pemerintahan. Setelah pemerintahan berjalan dengan teratur, maka dirasakan perlunya pendirian perpustakaan sebagai salah satu sarana dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sesuai dengan isi Pembukaan UUD ’45 alinea ke 4 : “...untuk mencerdaskan kehidupan bangsa...”. Usaha yang pertama dilakukan adalah bagaimana cara untuk memberantas buta huruf pada masyarakat pemerintah menyadari bahwa untuk tercapainya tujuan di atas, masyarakat perlu membaca. Dalam usaha memupuk kegemaran membaca, maka pemerintah berusaha menyediakan bahan-bahan bacaan yaitu dengan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.

Pemerintah mendirikan perpustakaan-perpustakaan rakyat dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diserahkan kepada Pendidikan Masyarakat. Perpustakaan Rakyat, yang dinamakan TPR, dikategorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu :



    1. Perpustakaan Tingkat A, didirikan di kecamatan dan diperuntukkan untuk masyarakat yang tingkat pendidikannya rata-rata tingkat Sekolah Dasar.

    2. Perpustakaan rakyat tingkat B, didirikan di Ibukota Kabupaten.

    3. Perpustakaan Rakyat Tingkat C, didirikan di Ibukota Propinsi.

Perpustakaan-perpustakaan rakyat tersebut sebenarnya adalah perpustakaan umum. Tetapi perpustakaan ini kurang berhasil seperti yang diharapkan. Sehingga namanya kemudian hilang. Tetapi ini bukan berarti bahwa perkembangan perpustakaan umum juga berhenti. Perpustakaan umum terus perkembang walaupun agak lambat. Pemerintahan masih memperhatikan perkembangan perpustakaan umum Daerah Tingkat II, hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0103/0/1981 tanggal 11 Maret 1981 yang isinya mengenai ketentuan sistem perpustakaan secara nasional.

Di ibukota daerah tingkat I dibina dan di kembangkan Perpustakaan Wilayah Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Kebijaksaan pembinaan Perpustakaan Nasional diserahkan kepada Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen pendidikan dan kebudayaan Jakarta.

Pembinaan dan pengembangan Perpustakaan Daerah Tingkat II, Tingkat kecamatan dan tingkat desa didasarkan kerjasama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan cq. Pusat Pembinaan Perpustakaan dengan Departemen dalam negeri. Sedangkan didaerah Propinsi, Perpustakaan wilayah sebagai unit pelaksana teknis (UPT) dari pusat pembinaan perpustakaan, berfungsi untuk membantu pembinaan dan pengembangan segala jenis perpustakaan di daerah.

Perpustakaan di indonesia terus berkembang berkat dukungan dan perhatian yang cukup besar dari pemerintah dan juga berkat usaha pihak perpustakaan sendiri yang tidak pernah berhenti untuk berusaha mencapai tujuannya.

Kita mengenal beberapa jenis perpustakaan. Yang membedakan jenis-jenis perpustakaan tersebut adalah tujuan perpustakaannya, koleksi yang tersedia, masyarakat yang dilayani, badan atau pihak yang berwenang menyelenggarakan perpustakaan tersebut.

Internasional Federation of Library Association (Wikipedia, 2011) mengelompokkan jenis-jenis perpustakaan atas :


    1. Perpustakaan Nasional (National Library)

    2. Perpustakaan Umum (Public Library)

    3. Perpustakaan Perguruan Tinggi (University Library)

    4. Perpustakaan Sekolah (School Library)

    5. Perpustakaan Khusus (Special Library)

Selain kelima jenis perpustakaan yang tersebut di atas, kita mengenal juga jenis-jenis perpustakaan yang lain (Wikipedia, 2011) yaitu :

1. Perpustakaan Wilayah

2. Perpustakaan Keliling


  1. Perpustakaan Nasional

Perpustakaan Nasional adalah perpustakaan yang didirikan di ibukota negara dan merupakan perpustakaan induk dari semua jenis perpustakaan yang ada di negara tersebut. Perpustakaan Nasional Indonesia didirikan di Jakarta

  1. Sebagai pusat referensi nasional. Dalam fungsi ini perpustakaan nasional harus mampu menjawab pertanyaan apa saja, oleh siapa saja yang ada hubungannya dengan Indonesia.

  2. Sebagai perpustakaan deposit. Dalam hal ini perpustakaan nasional mempunyai tugas dan bertanggung jawab untuk melestarikan seluruh penerbitan yang ada di Indonesia maupun yang ada di luar negeri yang mengenai Indonesia. Untuk menjamin terkumpulnya semua penerbitan yang ada di Indonesia, maka perlu adanya Undang-undang Karya Cetak (Deposit Act) yang mewajibkan semua penerbit untuk mengirimkan terbitan terbarunya kepada Perpustakaan Nasional sebanyak dua eksemplar. Tetapi Undang-undang hak cipta di Indonesia baru saja diakui yaitu pada bulan Agustus 1990. maka Perpustakaan Nasional Indonesia pun baru dapat melaksanakan fungsinya sebagai perpustakaan deposit. Hal ini juga harus mendapat dukungan dan kesadaran yang tinggi dari pihak penerbit bahan pustaka akan pentingnya arti deposit itu untuk melestarikan semua penerbitan di negara kita.

  3. Perpustakaan Nasional merupakan perpustakaan atau suatu badan yang menerbitkan Bibliografi Nasional yang merupakan suatu daftar buku-buku yang ada di Perpustakaan Nasional Indonesia dan pada perpustakaan lain di Indonesia terbitan Indonesia dan tentang Indonesia. Bibliografi Nasional Indonesia ini disebar luaskan juga keberbagai Instansi lain agar mereka juga mengetahui koleksi yang ada di Pepustakaan Nasional.

Perpustakaan Nasional pada beberapa waktu yang lalu berada di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi sekarang telah diakui sebagai lembaga Pemerintahan Non Departemen dan bertanggung jawab langsung kepada pemerintah.


  1. Perpustakaan Umum (Public Library)

Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, mengatur dan menyajikan bahan pustakanya untuk masyarakat umum. Perpustakaan umum diselenggarakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa memandang latar belakang pendidikan, agama, adat istiadat, umur, jenis dan lain sebagainya, maka koleksi perpustakaan Umum pun terdiri dari beraneka ragam bidang dan pokok masalah sesuai dengan kebutuhan informasi dari pemakainya.

Fungsi Perpustakaan Umum



    1. Pusat Informasi : menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat pemakai

    2. Preservasi kebudayaan : menyimpan dan menyediakan tulisan-tulisan tentang kebudayaan masa lampau, kini dan sebagai pengembangan kebudayaan di masa yang akan datang.

    3. Pendidikan : mengembangkan dan menunjang pendidikan non formulir diluar sekolah dan universitas dan sebagai pusat kebutuhan penelitian.

    4. Rekreasi : dengan bahan-bahan bacaan yang bersifat hiburan perpustakaan umum dapat digunakan oleh masyarakat pemakai untuk mengisi waktu luang.

    5. Dan lain-lain




  1. Perpustakaan perguruan tinggi (University Library)

Perpustakaan perguruan tinggi yaitu perpustakaan yang diselenggarakan untuk mengumpulkan, memelihara, menyimpan, mengatur, mengawetkan dan mendaya gunakan bahan pustakanya untuk menunjang pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi



    1. Jantung dari semua program pendidikan Universitas yaitu perpustakaan harus mampu membantu dan menjadi pusat kegiatan akademis lembaga pendidikannya.

    2. Pusat alat-alat peraga mengajarkan atau instructional material center

    3. Sebagai pelaksana pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi.




  1. Perpustakaan sekolah

Perpustakaan sekolah yaitu perpustakaan yang mengumpulkan, menyimpan, memelihara, mengatur dan mengawetkan bahan pustkanya untuk menunjang usaha pendidikan dan pengajaran di sekolah. Masyarakat pemakainya ialah para siswa, tenaga pengajar dan staf sekolah lainnya.

Fungsi perpustakaan sekolah ialah :



      1. Menunjang kegiatan belajar dan mengajar.

      2. Merupakan sarana pengembangan bakat dan keterampilan.

      3. Pusat media sekolah.

      4. Sarana penelitian sederhana.

      5. Sarana rekreasi.



  1. Perpustakaan khusus (Special Library)

Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh kantor atau instansi yang tujuannya adalah untuk untuk menunjang kegiatan kantor atau instansi dimana perpustakaan itu berada.

Fungsi perpustakaan khusus ialah :



        1. Untuk keperluan perencanaan, penagambilan keputusan dan pemecahan persoalan.

        2. Untuk kebutuhan riset dan pengembangan para staf yang terlibat dalam berbagai tugas penelitian dan pengembangan.

        3. Untuk kepentingan pendidikan dan latihan yang diselenggarakan oleh kantor dan instansi tersebut.

        4. Sebagai tempat pemeliharaan dan perawatan dokumen dari kantor atau instansi yang bersangkutan.

  1. Perpustakaan wilayah

Perpustakaan wilayah yaitu perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan berkedudukan di setiap ibu kota Propinsi, bertugas mengumpulkan serta melestarikan semua penerbitan daerah yang bersangkutan.

Fungsi perpustakaan wilayah adalah sebagai berikut :



          1. Sebagai perpustakaan referensi di wilayahnya.

          2. Merupakan perpustakaan deposit yang bertugas mengumpulkan semua penerbitan di daerahnya.

          3. Merupakan suatu badan yang bertugas membuat bibliografi

          4. Merupakan pusat kerjasama antar perpustakaan daerah

          5. Mempunyai wewenang untuk membina perpustakaan-perpustakaan yang ada di daerahnya.




  1. Perpustakaan keliling

Perpustakaan keliling pada prinsipnya merupakan perluasan dari pelayanan perpustakaan umum. Perpustakaan keliling adalah merupakan jenis perpustakaan yang dalam memberikan pelayanan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tujuan mengunjungi pemakai.

Fungsi perpustakaan keliling adalah :



            1. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di daerah, khususnya di daerah pedesaan dan daerah terpencil.

            2. Pemerataan pengembangan pendidikan.

            3. Sebagai media penerangan bagi masyarakat

            4. Memasyatakatkan perpustakaan dadn minat baca di kalangan masyarakat

            5. Dan lain-lain.




  1. Pengertian buku

Sebelum ditemukannya tulisan dan bentuk buku seperti yang kita kenal saat ini, pada masa-masa yang lalu telah dikenal bentuk tulisan dan jenis-jenis buku kuno.

Adapun jenis-jenis buku kuno yang kita kenal antara lain (Wikipedia, 2011) sebagai berikut :



  1. Clay tablet, yang ditemuka oleh bangsa Sumeria. Clay tablet terbuat dani tanah liat yang berbentuk segi empat dan kemudian ditulis dengan Stylus (sejenis rumput). Setelah Clay tablet ditulis, kemudian dikeringkan dengan panas matahari atau dibakar. Tulisan yang dibuat disebut Cunieform Characters (Cunieform writing system). Tulisan ini memakai lambang-lambang untuk menggambarkan sesuatu banda.

  2. Buku yang tebuat dari papirus yaitu yang termasuk golongan tumbuhan rawa, yang tumbuh subur di Seedge family. Cara membuat buku dari pohon, membelah tipis-tipis pohon papirus kemudian direndam dan diawetkan. Bentuk buku ini dijumpai di Mesir dan tulisan yang dipakai dikenal dengan nama tulisan paku. Dengan ditemukannya tulisan oleh bangsa Mesir Kuno itu telah memungkinkan mereka untuk mengabadikan hasil budayanya di atas buku tersebut. Pada zaman dulu orang –orang Mesir meninggal, membawa buku-buku papirus ini yang disebut Book of The Dead.

  3. Buku di negeri China, yang terbuat dari kulit pohon/kayu yang diikat dengan benang. Tetapi karena iklimnya yang lembab menyebabkan buku ini tidak sekuat buku-buku yang terbuat dari bahan yang lain.

  4. Codez, yang terdapat di Asia Tenggara dan terbuat dari pohon. Cara membuat buku ini adalah dengan mengupas pohon tersebut kemudian dipakai engsel-engsel dan kemudian diberikan lilin sehingga bentuknya seperti accordion.

  5. Vellum dan Parchmen, yaitu buku yang terbuat dari kulit binatang. Cara membuat buku ini adalah dengan mempergunakan kulit domba/lembu yang telah dibuang bulunya, kemudian dikeringakan.

Perkembangan tulisan terus mengalami penyempurnaan. Bangsa Funisia yang pertama kali dapat mengembangkan bentuk tulisan sehingga mitip dengan abjad yang dipergunakan sekarang ini, yang mereka kembangkan dari bentuk tulisan Mesri Kuno dan tulisan bangsa Sumeria. Bentuk tulisan yang pada mulanya merupakan gambar dari objek yang dinamakan Piktogram disempurnakan sehingga menjadi abjad yang jumlahnya 22 huruf.

Abjad Funisia terus berkembang terutama dikembangkan oleh bangsa Yunani, sehingga terciptalah huruf seperti yang kita pergunakan sekarang yang disebut dengan Huruf Latin.

Bersamaan dengan perkembangan tulisan bahan yang dipergunakan untuk menulis juga berkembang. Yang pada mulanya mempergunakan tanah liat, papirus, kulit, berkembang menjadi mempergunakan kertas. Kertas pertama kali ditemukan oleh Bangsa China. Sekitar abad ke 14 telah ditemukannya mesin cetak, sehingga pembuatan buku-buku bertambah baik. Mesin cetak ini terus berkembang hingga saat ini, sehingga dapat menghasilkan buku-buku yang baik mutunya.

Di Indonesia kita mengenal beberapa bentuk tulisan yang terdapat pada prasasti-prasasti peninggalan zaman dahulu kala. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bentuk tulisan yang dipakai di daerah tersebut pada masa dahulu, misalnya tulisan Jawa Kuno, tulisan Batak dan lain-lain. Bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Indonesia, kita juga mengenal tulisan Arab.




  1. Pengertian minat belajar

Minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas atau kegiatan (Slameto, 1995). Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas dan memperhatikan itu secara konsisten dengan rasa senang.

Menurut Kartono (1995), minat merupakan moment-moment dari kecenderungan jiwa yang terarah secara intensif kepada suatu obyek yang dianggap paling efektif (perasaan, emosional) yang didalamnya terdapat elemen-elemen efektif (emosi) yang kuat. Minat juga berkaitan dengan kepribadian. Jadi pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk mencapai suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi (Buchori, 1985).

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup menjadi obyek dari biologi. Oleh karena itu biologi berobyekkan benda-benda yang hidup. Maka cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung di dalamnya. Biologi sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan juga merupakan objek pada aspek minat. Dengan demikian, bidangbiologi dapat melahirkan reaksi perasaan senag, gembira, dan semangat belajar, begitu pula sebaliknya, tergantung dari kepribadian siswa sendiri apakah menaruh minat yang tinggi terhadap bidang biologi atau tidak (Ahmadi, 1998).

Menurut Hardjana (1994), minat merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang timbul karena kebutuhan, yang dirasa atau tidak dirasakan atau keinginan hal tertentu. Minat dapat diartikan kecenderungan untuk dapat tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang sesuatu barang atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu (Lockmono, 1994).

Minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Karena itu minat belajar adalah kecenderungan hati untuk belajar untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, kecakapan melalui usaha, pengajaran atau pengalaman (Hardjana, 1994).

Menurut Gie (1998), minat berarti sibuk, tertarik, atau terlihat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Dengan demikian, minat belajar adalah keterlibatan sepenuhnya seorang siswa dengan segenap kegiatan pikiran secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang pengetahuan ilmiah yang dituntutnya di sekolah.

Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Siswa yang berminat terhadap biologi akan mempelajari biologi dengan sungguh-sungguh seperti rajin belajar, merasa senang mengikuti penyajian pelajaran biologi, dan bahkan dapat menemukan kesulitan–kesulitan dalam belajar menyelesaikan soal-soal latihan dan praktikum karena adanya daya tarik yang diperoleh dengan mempelajari biologi. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Minat berhubungan erat dengan motivasi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah bila minat merupakan alat motivasi. Proses belajar akan berjalan lancar bila disertai minat. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar pelajaran yang diberikan mudah siswa mengerti (Hasnawiyah, 1994).

Kondisi kejiwaan sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Itu berarti bahwa minat sebagai suatu aspek kejiwaan melahirkan daya tarik tersendiri untuk memperhatikan suatu obyek tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap penolakan kepada guru (Slameto, 1995).

Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengenai salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukkan bahwa penyebabnya adalah kekurangan minat (Gie, 1998).

Menurut Gie (1998), arti penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan studi adalah :


  1. Minat melahirkan perhatian yang serta merta.

  2. Minat memudahnya terciptanya konsentrasi.

  3. Minat mencegah gangguan dari luar

  4. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan.

  5. Minat memperkecil kebosanan belajar belajar dalam diri sendiri.

Minat melahirkan perhatian spontan yang memungkinkan terciptanya konsentrasi untuk waktu yang lama dengan demikian, minat merupakan landasan bagi konsentrasi. Minat bersifat sangat pribadi, orang lain tidak bisa menumbuhkannya dalam diri siswa, tidak dapat memelihara dan mengembangkan minat itu, serta tidak mungkin berminat terhadap sesuatu hal sebagai wakil dari masing-masing siswa (Gie, 1995).

Minat dan perhatian dalam belajar mempunyai hubungan yang erat sekali. Seseorang yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikan mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, bila seseorang menaruh perhatian secara kontinyu baik secara sadar maupun tidak pada objek tertentu, biasanya dapat membangkitkan minat pada objek tersebut.

Kalau seorang siswa mempunyai minat pada pelajaran tertentu dia akan memperhatikannya. Namun sebaliknya jika siswa tidak berminat, maka perhatian pada mata pelajaran yang sedang diajarkan biasanya dia malas untuk mengerjakannya. Demikian juga dengan siswa yang tidak menaruh perhatian yang pada mata pelajaran yang diajarkan, maka sukarlah diharapkan siswa tersebut dapat belajar dengan baik. Hal ini tentu mempengaruhi hasil belajarnya (Kartono, 1995).

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.

Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut.

Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting dan bila siswa melihat bahwa dari hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar siswa akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya.

Dengan demikian perlu adanya usaha-usaha atau pemikiran yang dapat memberikan solusi terhadap peningkatan minat belajar siswa, utamanya dengan yang berkaitan dengan bidang studi biologi. Minat sebagai aspek kewajiban bukan aspek bawaan, melainkan kondisi yang terbentuk setelah dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu minat sifatnya berubah-ubah dan sangat tergantung pada individunya.

Minat belajar dapat diingatkan melalui latihan konsentrasi. Konsentrasi merupakan aktivitas jiwa untuk memperhatikan suatu objek secara mendalam. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi itu muncul jika seseorang menaruh minat pada suatu objek, demikian pula sebaliknya merupakan kondisi psikologis yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kondisi tersebut amat penting sehingga konsentrasi yang baik akan melahirkan sikap pemusatan perhatian yang tinggi terhadap objek yang sedang dipelajari.

Minat sebagai salah satu aspek psikologis dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang sifatnya dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Dilihat dari dalam diri siswa, minat dipengaruhi oleh cita-cita, kepuasan, kebutuhan, bakat dan kebiasaan. Sedangkan bila dilihat dari faktor luarnya minat sifatnya tidak menetap melainkan dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Faktor luar tersebut dapat berupa kelengkapan sarana dan prasarana, pergaulan dengan orang tua dan persepsi masyarakat terhadap suatu objek serta latar belakang sosial budaya (Slameto, 1995).

Menurut Slameto (1995), faktor-faktor yang berpengaruh di atas dapat diatasi oleh guru di sekolah dengan cara:



  1. Penyajian materi yang dirancang secara sistematis, lebih praktis dan penyajiannya lebih berserni.

  2. Memberikan rangsangan kepada siswa agar menaruh perhatian yang tinggi terhadap bidang studi yang sedang diajarkan.

  3. Mengembangkan kebiasaan yang teratur

  4. Meningkatkan kondisi fisik siswa.

  5. Mempertahankan cita-cita dan aspirasi siswa.

  6. Menyediakan sarana oenunjang yang memadai.

Minat belajar membentuk sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi pada setiap siswa. Oleh karena itu, minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing siswa. Pihak lainnya hanya memperkuat dan menumbuhkan minat atau untuk memelihara minat yang telah dimiliki seseorang (Loekmono, 1994).

Minat berkaitan dengan nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu, merenungkan nilai-nilai dalam aktivitas belajar sangat berguna untuk membangkitkan minat. Misalnya belajar agar lulus ujian, menjadi juara, ahli dalam salah satu ilmu, memenuhi rasa ingin tahu mendapatkan gelar atau memperoleh pekerjaan. Dengan demikian minat belajar tidak perlu berangkat dari nilai atau motivasi yang muluk-muluk. Bila minat belajar didapatkan pada gilirannya akan menumbuhkan konsentrasi atau kesungguhan dalam belajar (Sudarnoto, 1994)

Loekmono (1994), mengemukakan 5 butir motif yang penting yang dapat dijadikan alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seorang siswa yiatu :


  1. Suatu hasrat untuk memperoleh nilai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran.

  2. Suatu dorongan batin untuk memuaskan rasa ingin tahu dalam satu atau lain bidang studi.

  3. Hasrat siswa untuk meningkatkan siswa dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

  4. Hasrat siswa untuk menerima pujian dari orang tua, guru atau teman-teman.

  5. Gambaran diri dimasa mendatang untuk meraih sukses dalam suatu bidang khusus tertentu.

Beberapa langkah untuk menimbulkan minat belajar menurut (Sudarnoto, 1994), yaitu :

  1. Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak dicapai.

  2. Mengenai unsur-unsur permainan dalam aktivitas belajar.

  3. Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti rencana itu.

  4. Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya; menyelesaikan PR atau laporan.

  5. Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal belajar.

  6. Bersikaplah positif di dalam menghadapi kegiatan belajar.

  7. Melatih kebebasan emosi selama belajar.




  1. Prestasi dan belajar

Setiap guru pasti memiliki keinginan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang dibimbingnya. Karena itu guru harus memiliki hubungan dengan siswa yang dapat terjadi melalui proses belajar mengajar. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa. Hasil belajar berasal dari dua kata dasar yaitu hasil dan belajar, istilah hasil dapat diartikan sebagai sebuah prestasi dari apa yang telah dilakukan. Berikut ini beberapa definisi tentang prestasi belajar :

1. Syah (1997 : 141) menyatakan prestasi adalah taraf keberhasilan proses belajar mengajar.

2. Hamalik (2001 : 159) menyatakan prestasi merupakan indikator adanya perubahan tingkah laku siswa. Jadi prestasi adalah hasil maksimal dari sesuatu, baik berupa belajar mapun bekerja.

3. Poerwadarmita (1996 : 169) menyatakan bahwa prestasi adalah apa yang telah dicapai dari hasil pekerjaan yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja.

Sedangkan definisi belajar menurut para ahli yang dimuat dalam website Tonge (2011) sebagai berikut :


    1. Ahmadi dan Supriono (2004 : 128) berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan didalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

    2. Hilgard dan Bower (1975 : 156) mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamanya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan.

    3. Sutikno (2004) mengartikan belajar adalah suatu proses usaha seseorang yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

    4. Hakim (2002) mengartikan belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningakatan kecakapan pengetahuan, sikap, pemahaman, keterampilan, daya fakir dan kemampuan lainnya.

    5. Ahmadi dan Prasetya (1997 : 17) belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap,bahkan meliputi segenap aspek pribadi. Tidak membantu siswa terlalu dini, menghargai usaha siswa walaupun hasilnya belum memuaskan, menantang siswa untuk berbuat dan berfikir. Tanggung jawab dalam belajar berada pada diri siswa, tetapi guru menciptakan suasana yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Dari penjelasan beberapa ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar pada hakekatnya adalah proses perubahan perilaku siswa dalam bakat pengalaman dan pelatihan. Artinya tujuan kegiatan belajar mengajar ialah perubahan tingkahlaku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, bahkan meliputi segenap aspek pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, menilai proses dan hasil belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru dalam pencapaian hasil belajar siswa.



  1. Do'stlaringiz bilan baham:
  1   2


Ma'lumotlar bazasi mualliflik huquqi bilan himoyalangan ©hozir.org 2017
ma'muriyatiga murojaat qiling

    Bosh sahifa